Senin, 19 September 2011

filsafat ilmu (Ilmu Dan Bahasa)


ILMU DAN BAHASA

MAKALAH
Di Ajukan Sebagai Tugas Mata Kuliah
Filsafat Ilmu

Dosen Pembimbing :
Drs. M. ARIF A.M, M.A.

Disusun oleh :
1.       MOHAMMAD SYAKUR ANSHORY
2.       M. NUZLAL MUNTASIR



 















SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MIFTAHUL ’ULA
( S T A I M )
Progam Studi S-1 PAI
NGLAWAK – KERTOSONO – NGANJUK
Maret, 2010





PENDAHULUAN

1.1.      LATAR BELAKANG
Dewasa ini terdapat perhatian yang semakin besar terhadap filsafat ilmu, perkembangan cepat yang dialami oleh banyak ilmu serta pengaruhnya yang semakin besar terhadap kehidupan masyarakat, memaksa kita untuk mempelajari metode-metode berbagai cabang ilmu.
Keberadaan filsafat ilmu di dunia pendidikan ini sangatlah penting dan melengkapi keberadaan filsafat ilmu secara utuh, maka ada beberapa hal di dalamnya yang harus kita pelajari, namun sebelum kita mempelajari lebih lanjut tentang filsafat ilmu secara keseluruhan, kita juga harus mengetahui tentang kognisinya, yang akan kita bahas dalam makalah ini yaitu tentang kognisi yang meliputi ilmu dan bahasa. Kedua hal tersebut merupakan pembahasan yang saling berkaitan.

1.2.      RUMUSAN MASALAH
Dari uraian di atas maka dapat di tarik beberapa pokok permasalahan, diantaranya :
1.        Apakah pengertian ilmu ?
2.        Ada berapa macam ciri-ciri ilmu ?
3.        Apakah pengertian bahasa ?
4.        Apa saja fungsi bahasan ?
5.        Bagaimana bahasa sebagai sarana berfikir ilmiah ?

1.3.      TUJUAN PEMBAHASAN
1.        Dapat mengetahui pengertian ilmu.
2.        Mengetahui ciri-ciri ilmu.
3.        Mengetahui pengertian bahasa.
4.        Mengetahui fungsi bahasa.
5.        Mengetahui bagaimana bahasa sebagai saran berfikir ilmiah.






PEMBAHASAN

2.1.      PENGERTIAN ILMU
Ilmu berasal dari bahasa arab : Alima, Ya’lamu, Ilman dengan wazan Fa’ila, Yaf’alu, yang berarti : mengerti, memahami benar-benar, seperti ungkapan 
علم اصموعى درس الفلسفه ”Asmu’i telah memahami pelajaran filsafat”. Dalam bahasa inggris disebut science ; dari bahasa latin screntia (pengetahuan)-scire (mengetahui). Jadi pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.[1]
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli, diantaranya adalah :
1.        Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar,maupun menurut bangunannya dari dalam.[2]
2.        Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik dan keempatnya serentak.[3]
3.        Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komperehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.[4]
4.        Ashley Montagu, guru besar antropolog di Rutgers University menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentkan hakikat prinsip tentang hal yang sedang di kaji.[5]
5.        Afanasyef, seorang pemikir Marxist bangsa Rusia mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan manusia tentang alam, masyarakat dan fikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep kategori dan hukum. Hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya di uji dengan pengalaman praktis.[6]
Dari keterangan para ahli tentang ilmu diatas, maka dapat di simpulkan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang memepunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka dan komulatif (bersusun timbun).

2.2.      CIRI-CIRI ILMU
Adapun beberapa ciri-ciri ilmu, antara lain adalah :
1.        Ilmu adalah sebagian-sebagian pengetahuan bersifat kohern, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan. Berbeda dengan iman, yaitu penegtahuan di dasarkan atas keyakinan kepada yang ghaib dan penghayatan serta pengalaman pribadi.
2.        Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan suatu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis. Karena itu, koherensi sistematik adalah hakikat ilmu.
3.        Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan, sebab ilmu dapat memuat di dalamnya dirinya sendiri hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang belum sepenuhnya dimantapkan.
4.        Ciri hakiki lainnya dari ilmu ialah metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan gabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah. Sebaliknya ilmu menuntut pengamatan dan berfikir metodis, tetapi rapi. Alat Bantu metodologis yang penting adalah ”Terminologi Ilmiah”. Yang disebut belakangan ini mencoba konsep-konsep ilmu.[7]

2.3.      PENGERTIAN BAHASA
Banyak ahli bahasa yang telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa. Sudah barang tentu setiap ahli berbeda-beda cara menyampaikannya. Bernard Bloch and George L. Trager mengatakan bahwa a language is a system of arbiirary vocal symbols by means of which a social group cooperates (bahasa adalah suatu sistem symbol-simbol bunyi arbritrer yang digunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).[8]
Senada dengan devinisi diatas, Joseph Broam mengatakan bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbols by means of which member of social group interact (bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari symbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain).[9]
Dari pengertian diatas maka terdapat unsur-unsur di dalam bahasa itu sendiri, antara lain :
1.        Simbol-Simbol
Simbol-simbol berarti thing that stand for other things atau sesuatu yangmenyatakan sesuatu yang lain. Hubungan antara symbol dan ”sesuatu” yang dilambangkannya itu tidak merupakan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya atau sesuatu yang bersifat ilmiah, seperti yang terdapat pada awan hitam dan turunnya hujan, ataupun antara tingginya panas badan dan kemungkinan terjadinya infeksi. Awan hitam adalah tanda turunnya hujan ; panas suhu badan yang tinggi tanda suatu penyakit.
Jika dikatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem symbol-simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa ucapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek ataupun kejadian dalam dunia praktis.
2.        Simbol-Simbol Vocal
Simbol-simbol yang membangun ujaran manusia adalah simbol-simbol vocal, yaitu bunyi-bunyi yang urutan-urutan bunyinya dihasilkan dari kerja sama sebagi organ atau alat tubuh dengan sistem pernafasan. Untuk memenuhi maksudnya, bunyi-bunyi tersebut haruslah di dengar oleh orang lain dan harusdi artikulasikan sedemikian rupa untuk memudahkan si pendengar untuk merasakannya secara jelas dan berbeda dari yang lainnya. Pada dasarnya ujaran merupakan simbol-simbol bahasa, bersin, batuk, dengkur dan lain sebagainya biasanya tidak mengandung nilai simbolis, semua itu tidak bermakna apa-apa diluar mereka sendiri.
3.        Simbol-Simbol Arbitrer
Istilah arbitrer disini bermakna ”mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valid secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya.[10]

2.4.      FUNGSI BAHASA
Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama, yaitu pertama, sebagai saran komunikasi antar manusia. Kedua sebagai sarana budaya yang mempersatukan kelompok manusia yang mempergunakan bahasa tersebut. Fungsi pertama dapat kita sebutkan sebagai fungsi komunikatif dan yang kedua sebagai kohesif atau integratif.[11]
Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Amsal Bakhtiar bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut :
1.        Fungsi Instrumental : penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum dan sebagainya.
2.        Fungsi Reguilatoris : penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku.
3.        Fungsi Interaksional : penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan dan fikiran.
4.        Fungsi Personal : seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan fikiran.
5.        Fungsi Heuristik : penggunaan bahasa untuk mencapai atau mengungkap tabir fenomena dan keinginan untuk memperlajarinya.
6.        Fungsi Imajinatif : penggunaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita.
7.        Fungsi Represantional : penggunaan bahasa untuk menggambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikan kepada orang lain.[12]
Sedangkan Buhler membedakan fungsi bahasa ke dalam bahasa ekspresif, bahasa konatif dan bahasa representasional. Bahasa ekspresif, yaitu bahasa yang terarah pada diri sendiri, yakni si pembicara ; bahasa konatif, yaitu bahasa yang terarah pada lawan bicara ; dan bahasa representasional, yaitu bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya, yaitu apa saja selain si pembicara atau lawan bicara.[13]

2.5.      BAHASA SEBAGAI SARANA BERFIKIR ILMIAH
Untuk dapat berfikir ilmiah, seseorang selayaknya menguasai kriteria maupun langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah dengan menguasai hal tersebut tujuan yang akan dicapai akan terwujud. Di samping menguasai langkah-langkah tentuny kegiatan ini dibantu oleh saran berupa bahasa, logika matematika dan statistika.
Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berfikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berfikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran tersebut kepada orang lain, baik fikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif, dengan kata lain, kegiatan berfikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa, menggunakan bahasa yang baik dalam berfikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar. Apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan benar. Premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga. Semua itu tidak terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berfikir.[14]
Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan untuk mencapai komunikasi ilmiah, maka bahasa yang digunakan harus terbebas dari unsur emotif.







PENUTUP

3.1.      KESIMPULAN
            3.1.1.   Pengertian Ilmu
Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal objektif, dapat diukur, terbuka dan komulatif (bersusun timbun)
            3.1.2.   Ciri-Ciri Ilmu Antara Lain
1.       Ilmu adalah sebagian pengetahuan bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan dibuktikan.
2.       Berbeda dengan pengetahuan, ilmu tidak pernah mengartikan kepingan pengetahuan satu putusan tersendiri, sebaliknya ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke objek yang sama dan saling berkaitan secara logis.
3.       Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan masing-masing penalaran perorangan.
4.       Ciri hakiki ilmu adalah metodologi sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dicapai dengan gabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah.
            3.1.3.   Pengertian Bahasa
Bahasa adalah suatu sistem yang berstruktur dari simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain.
Unsur-unsur yang terdapat dalam bahasa :
1.       Simbol-simbol.
2.       Simbol-simbol vocal.
3.       Simbol-simbol arbitrer.
            3.1.4.   Fungsi Bahasa
Menurut Halliday fungsi bahasa adalah sebagai berikut :
1.        Fungsi instrumental.
2.        Fungsi regulatoris.
3.        Fungsi interaksional.
4.        Fungsi personal.
5.        Fungsi heuristik.
6.        Fungsi imajinatif.
7.        Fungsi representasional.
            3.1.5    Bahasa Sebagai Saran Berfikir Ilmiah
Ilmu sangat berkaitan langsung dengan bahasa, menggunakan bahasa yang baik dalam berfikir belum tentu mendapatkan kesimpulan yang benar, apalagi dengan bahasa yang tidak baik dan tidak benar, premis yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang salah juga, semua itu tidak lepas dari fungsi bahasa itu sendiri sebagai sarana berfikir ilmiah.


















DAFTAR PUSTAKA

Anshari Saifuddin Endang, Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya : P.T. BINA ILMU, 1987
Bakhtiar Amsal. Filsafat Ilmu, Jakarta : RAJA GRAFINDO PERSADA, 2004
Broam Joseph, Language And Society, Garden City : Doubleday And Company Inc, 1995
Bloch Bernard and Trager L. George, Out Line Of Linguistc Analisis, Baltimore : Linguistic Society Of America, 1942
Halliday M.A.K. dan Hasan Ruqoya, Bahasa Konteks dan Teks, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Asruddin Barori Tou, Yogyakarta : GAJAH MADA PRESS, 1994
Suriasumantri Jujun, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : PUSTAKA SINAR HARAPAN, 2007



[1] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu, (Jakarta : RAJA GRAFINDO PERSADA, 2004), hlm. 12
[2] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, hlm. 47
[3] Bakhtiar. hlm.15
[4] Bakhtiar. hlm.15
[5] Bakhtiar. hlm.15
[6] Bakhtiar. hlm.15
[7] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu, (Jakarta : RAJA GRAFINDO PERSADA, 2004), hlm. 13
[8] Bernard Bloch and George L. Trager, Out Line Of Linguistc Analisis, (Baltimore : Linguistic Society Of America, 1942), hlm. 5
[9] Joseph Broam, Language And Society, (Garden City : Doubleday And Company Inc, 1995), hlm 2
[10] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu, (Jakarta : RAJA GRAFINDO PERSADA, 2004), hlm. 177
[11] Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : PUSTAKA SINAR HARAPAN, 2007), hlm. 300
[12] Amsal Bakhtiar. Filsafat Ilmu, (Jakarta : RAJA GRAFINDO PERSADA, 2004), hlm. 180
[13] M.A.K. Halliday dan Ruqoya Hasan, Bahasa Konteks dan Teks, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Asruddin Barori Tou, (Yogyakarta : GAJAH MADA PRESS, 1994), hlm. 21
[14] Bakhtiar, hlm. 184

0 komentar:

Poskan Komentar